Indonesia adalah negara merdeka bukan negara yang dijajah, negara demokrasi bukan negara totaliter. Kemerdekaan yang ditandai dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 telah diproklamirkan oleh bapak proklamasi, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta. Inilah ujung tombak dari kepedihan para pejuang pahlawan kemerdekaan yang dengan tulus ikhlas rela mati melawan penjajah biadab, demi hilangnya penindasan di bumi pertiwi. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak pahlawan yang gugur dalam medan perang atau bahkan mati dengan siksaan keji. Merekapun pantas mendapatkan gelar sebagai pahlawan tanpa mereka meminta.
Indonesia
berduka, Indonesia belum “Merdeka” bahkan ini terjadi setelah proklamasi
kemerdekaan. Sejak adanya orde baru oleh rezim soeharto serta
kroni-kroninya.
Mereka yang diharapkan menjadi pahlawan penerus perjuangan justru
menjadi
penjarah dan penjajah di negara sendiri. Rezim orde baru yang jahat
sangat menyengsarakan rakyat. Rakyat indonesia sebagai “cicak dan
kancil”
seolah di kurung dalam kandang “buaya”. Jangankan bebas, mengkritik saja
taruhannya nyawa. Jangankan merdeka, bungkam sebagai bentuk perlawanan
saja
dilenyapkan dari permukaan. Teror dan bentuk intimidasi kepada rakyat
maupun
lembaga yang dianggap sebagai penghalang kekuasaan akan terus
dihalalkan. Mereka
bagai “pahlawan” yang memakai “sandal dari neraka” yang membawa
Indonesia membakar
birokrasinya sampai keakar. Birokrasi yang membawa mereka kepada
stuktur arogansi militer kekuasaan, dimana rakyat tak
ada hak melawan apapun yang raja
katakan.
Tulisan
ini mengingatkan kembali bahwa rezim orde baru oleh Soeharto yang katanya
diberi gelar “bapak pembangunan” justru menjadi bapak penindasan. Menjadi
“pahlawan” yang harus di lawan. Karena warisan dosanya sangatlah besar bahkan kebiadapannya
diturunkan kepada anak cucunya sampai saat ini. Korupsi, kolusi, dan nepotisme
adalah sesuatu yang mutlak yang tidak bisa dijatuhkan talak. Tumbuh makmur dan
subur ditengah rakyat yang merintih perih menahan kelaparan dan kepedihan.
Sangat ironis memang, kaum proletar bisa apa,
yang mereka fikirkan adalah bagaimana bisa dapat gaji dan besok bisa
makan nasi. Tak pernah terlintas dalam benak mereka atas gedung-gedung yang
dihuni kaum munafik.
Bukan
maksud hati mengungkit-ungkit kembali kejahatan orde baru, tetapi hanya
mengingatkan bahwa pahlawan perjuangan dulu telah diinjak-injak dengan
birokrasi menjijikkan. Membuka mata hati kita bahwa pahlawan adalah yang rela
berjuang mati-matian, rela berkorban dihiasi darah dan air mata membela tanah air
dan bangsa. Bukan mereka yang sok pahlawan berjuang mati-matian mematikan
rakyat sendiri. Seolah Rezim orde baru menyalah gunakan wacana Ir. Soekarno
tentang konsep berdikari yang mereka artikan sebagai berdiri memakan kaki
sendiri.
Hari
Pahlawan yang diperingati setiap 10 November seharusnya tidak hanya dijadikan sebagai
momentum pengingat peristiwa kelam saat para pejuang bangsa mati-matian
melawan serangan negara lain. Kepedihan
saat terjadi pertempuran arek-arek Surabaya saat melawan tentara Inggris yang melancarkan serangan besar-besaran, dengan
mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah kapal
perang. Peristiwa tersebut menyebabkan insan tak berdosa mati sia-sia.
Bukan tanpa alasan tentara Inggris menyerang, ini adalah bentuk murka mereka
karana rakyat Indonesia di Surabaya Menolak ultimatum yang Jendral Militer Inggris
keluarkan yaitu menyerahkan senjata yang dipegang rakyat Indonesia pada 10
November 1945 sebagai buntut atas terbunuhnya
Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada
tanggal 30 Oktober 1945.
Hari
pahlawan tidak hanya sebagai formalitas dengan mengadakan pengibaran bendera
setengah tiang, atau sekedar mengadakan acara yang berkaitan dengan
kepahlawanan, setelah acara usai tak ada nilai yang bisa diambil. Harusnya dapat
dimaknai dan diresapi sejauh mana kita semua rakyat Indonesia bisa meneladani
pahlawan kita dan memikirkan apa saja yang bisa kita perjuangkan untuk
memerdekakan keterpurukan dan kepedihan Indonesia
saat ini. Masih banyak yang perlu dilihat tanpa memandangnya sebelah mata.
Korupsi, pengangguran, kemiskinan , kelaparan, penindasan merajalela.
Masih
banyak penjajah dan penjarah yang tak lain adalah warga negara kita sendiri
yang telah “murtad” sebab mendewakan uang dan kekuasaan. Lihatlah betapa tidak
punya muka para koruptor yang tertangkap, bahkan penjarapun mereka sulap
menjadi “surga” yang penuh kenikmatan, betapa biadab penegak hukum yang
memegang prinsip bahwa hukum adalah tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Betapa
menyedihkan saat lingkungan dan alam telah dieksploitasi seenak jidat sendiri
sehingga bagaimanapun rusaknya mereka tak peduli. Betapa menyesakkan dada, saat
pejabat terhormat justru berusaha melanggengkan kekuasaan tanpa hasil yang
berarti dan justru menambah beban rakyat dengan segala bentuk penjarahannya.
Betapa mirisnya kaum pelajar, mahasiswa yang notabene paham pendidikan justru
berulah , menyesatkan diri mereka dengan tawuran, pergaulan bebas, dan narkoba.
Kita
semua harus bangkit, jangan sampai menjadi “sampah” dinegeri sendiri. Jangan
sampai menjadi sosok “pahlawan” yang harus dilawan. Bagaimanpun posisi kita
saat ini. Pelajar, mahasiswa, guru, penegak
hukum, politisi, pedagang, pengusaha, buruh, petani, dan seluruh rakyat Indonesia harus
bersinergi, bahu-membahu, bersatu membangun indonesia yang merdeka dari segala aspek
kehidupan seperti: ekonomi, sosial, budaya, agama dan lain sebagainya, sehingga
tak akan ada lagi celah penjarah dan penjajah yang mengeruk lebih dalam
kekayaan dan kemakmuran neger kita ini. Jangan pernah mengaku serta berbangga
diri sebagai rakyat Indonesia, kalau tak ada kontribusi dan tak ada manfaat
buat bumi pertiwi ini. Kuncinya adalah
mulai dari pribadi kita sendiri untuk berubah, mulai dari hal yang kecil, dam
mulai dari sekarang. Kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak kita siapa lagi.
Penulis : Ahmad Sabiqul Mustofa
(Mahasiswa UM Metro)

0 komentar:
Posting Komentar