Rabu, 16 November 2016

Pahlawan Indonesia Dalam Masa

Melawan Pahlawan

Indonesia adalah negara merdeka bukan negara yang dijajah, negara demokrasi  bukan negara totaliter. Kemerdekaan yang ditandai dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 telah diproklamirkan oleh bapak proklamasi, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta. Inilah ujung tombak dari kepedihan para pejuang pahlawan kemerdekaan yang  dengan tulus ikhlas rela mati melawan penjajah biadab, demi hilangnya penindasan di bumi pertiwi. Sudah tak terhitung lagi  berapa banyak pahlawan yang  gugur dalam  medan perang atau bahkan mati dengan siksaan keji. Merekapun pantas mendapatkan gelar sebagai pahlawan tanpa mereka meminta.
Indonesia berduka, Indonesia belum “Merdeka” bahkan ini terjadi setelah proklamasi kemerdekaan. Sejak adanya orde baru oleh rezim soeharto serta kroni-kroninya. Mereka yang diharapkan menjadi pahlawan penerus perjuangan justru menjadi penjarah dan penjajah di negara sendiri. Rezim orde baru yang  jahat sangat menyengsarakan rakyat.  Rakyat indonesia sebagai “cicak dan kancil” seolah di kurung dalam kandang “buaya”. Jangankan bebas, mengkritik saja taruhannya nyawa. Jangankan merdeka, bungkam sebagai bentuk perlawanan saja dilenyapkan dari permukaan. Teror dan bentuk intimidasi kepada rakyat maupun lembaga yang dianggap sebagai penghalang kekuasaan akan terus dihalalkan. Mereka bagai “pahlawan” yang memakai “sandal dari neraka” yang membawa Indonesia membakar birokrasinya sampai keakar. Birokrasi  yang membawa mereka kepada  stuktur  arogansi militer kekuasaan, dimana rakyat tak ada hak  melawan apapun yang raja katakan.
Tulisan ini mengingatkan kembali bahwa rezim orde baru oleh Soeharto yang katanya diberi gelar “bapak pembangunan” justru menjadi bapak penindasan. Menjadi “pahlawan” yang harus di lawan. Karena warisan dosanya  sangatlah besar bahkan kebiadapannya diturunkan kepada anak cucunya sampai saat ini. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah sesuatu yang mutlak yang tidak bisa dijatuhkan talak. Tumbuh makmur dan subur ditengah rakyat yang merintih perih menahan kelaparan dan kepedihan. Sangat ironis memang, kaum proletar bisa apa,  yang mereka fikirkan adalah bagaimana bisa dapat gaji dan besok bisa makan nasi. Tak pernah terlintas dalam benak mereka atas gedung-gedung yang dihuni  kaum munafik.
Bukan maksud hati mengungkit-ungkit kembali kejahatan orde baru, tetapi hanya mengingatkan bahwa pahlawan perjuangan dulu telah diinjak-injak dengan birokrasi menjijikkan. Membuka mata hati kita bahwa pahlawan adalah yang rela berjuang mati-matian, rela berkorban dihiasi darah dan air mata membela tanah air dan bangsa. Bukan mereka yang sok pahlawan berjuang mati-matian mematikan rakyat sendiri. Seolah Rezim orde baru menyalah gunakan wacana Ir. Soekarno tentang konsep berdikari yang mereka artikan sebagai berdiri memakan kaki sendiri.
Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November seharusnya tidak hanya dijadikan sebagai momentum pengingat peristiwa kelam saat para pejuang bangsa mati-matian melawan  serangan negara lain. Kepedihan saat terjadi pertempuran arek-arek Surabaya saat melawan tentara Inggris yang melancarkan serangan besar-besaran, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah kapal perang. Peristiwa tersebut menyebabkan insan tak berdosa mati sia-sia. Bukan tanpa alasan tentara Inggris menyerang, ini adalah bentuk murka mereka karana rakyat Indonesia di Surabaya Menolak ultimatum yang Jendral Militer Inggris keluarkan yaitu menyerahkan senjata yang dipegang rakyat Indonesia pada 10 November 1945 sebagai buntut atas terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktober 1945.
Hari pahlawan tidak hanya sebagai formalitas dengan mengadakan pengibaran bendera setengah tiang, atau sekedar mengadakan acara yang berkaitan dengan kepahlawanan, setelah acara usai tak ada nilai yang bisa diambil. Harusnya dapat dimaknai dan diresapi sejauh mana kita semua rakyat Indonesia bisa meneladani pahlawan kita dan memikirkan apa saja yang bisa kita perjuangkan untuk memerdekakan keterpurukan  dan kepedihan Indonesia saat ini. Masih banyak yang perlu dilihat tanpa memandangnya sebelah mata. Korupsi, pengangguran, kemiskinan , kelaparan, penindasan merajalela.
Masih banyak penjajah dan penjarah yang tak lain adalah warga negara kita sendiri yang telah “murtad” sebab mendewakan uang dan kekuasaan. Lihatlah betapa tidak punya muka para koruptor yang tertangkap, bahkan penjarapun mereka sulap menjadi “surga” yang penuh kenikmatan, betapa biadab penegak hukum yang memegang prinsip bahwa hukum adalah tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Betapa menyedihkan saat lingkungan dan alam telah dieksploitasi seenak jidat sendiri sehingga bagaimanapun rusaknya mereka tak peduli. Betapa menyesakkan dada, saat pejabat terhormat justru berusaha melanggengkan kekuasaan tanpa hasil yang berarti dan justru menambah beban rakyat dengan segala bentuk penjarahannya. Betapa mirisnya kaum pelajar, mahasiswa yang notabene paham pendidikan justru berulah , menyesatkan diri mereka dengan tawuran, pergaulan bebas, dan narkoba.
Kita semua harus bangkit, jangan sampai menjadi “sampah” dinegeri sendiri. Jangan sampai menjadi sosok “pahlawan” yang harus dilawan. Bagaimanpun posisi kita saat ini. Pelajar, mahasiswa, guru, penegak  hukum, politisi, pedagang, pengusaha, buruh,  petani, dan seluruh rakyat Indonesia harus bersinergi, bahu-membahu, bersatu membangun indonesia yang merdeka dari segala aspek kehidupan seperti: ekonomi, sosial, budaya, agama dan lain sebagainya, sehingga tak akan ada lagi celah penjarah dan penjajah yang mengeruk lebih dalam kekayaan dan kemakmuran neger kita ini. Jangan pernah mengaku serta berbangga diri sebagai rakyat Indonesia, kalau tak ada kontribusi dan tak ada manfaat buat bumi  pertiwi ini. Kuncinya adalah mulai dari pribadi kita sendiri untuk berubah, mulai dari hal yang kecil, dam mulai dari sekarang. Kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak kita siapa lagi.
Penulis : Ahmad Sabiqul Mustofa (Mahasiswa UM Metro)

0 komentar:

Contact

Hubungi Kami

Beri tahu kami ketika anda membutuhkan sesuatu ataupun ingin mengajak kerja sama Tim kami. Suport dan Donasi anda membuat kerja kerja kemanusiaan yang kita himpun akan semakin kuat dan bermanfaat.

Alamat (Address):

Bandar Lampung, Jl. Nusantara , Indonesia

Jam Kerja (Work Time):

Senin (Monday) - Jumat (Friday) 9am - 5pm

No HP/Phone:

085664333675

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Bisnis Global, Market dan Peluangnya

 Beberapa realitas bisnis yang sedang terjadi saat ini dan patut kita jadikan bahan analisis bisnis, AI bukan lagi keunggulan, tetapi keb...