Urgensi Diskusi dan Literasi
Hiruk pikuk
peserta didik setiap hari ialah pemandangan yang biasa di kota yang bergelar
kota pendidikan di Lampung ini. Berbagai lembaga pendidikan dari tingkat dasar
sampai perguruan tinggi tersaji di dalam sketsa kota. Kontribusi setiap lembaga
pun tak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan yang lain. Akan tetapi
seberapakah kontribusi para intelek yang ada di dalam budaya pendidikan?
Tak banyak
memang yang berperan aktif di dalam pembangunan intelektual kota ini.
Cukup
miris, kota dengan gelar pendidikan yang didukung dengan lembaga pendidikan
yang sangat memadai. Para intelek di kota ini seakan tertidur dalam tradisi
yang tak karuan dalam aktivitas pendidikan.
Kekosongan
suatu pemikiran untuk pembaharuan pendidikan di kota ini masih segelintir orang
yang memikirkan. Lantas, di mana para intelektual yang lain? Hilangkah?
Lenyapkah? Mereka acuh tak mengindahkan terhadap budaya yang erat dalam sebuah
pendidikan. Sebuah ajang diskusi yang membangun pola pemikiran bagi para
intelek-intelek, masih jarang ditemui di kota ini. Bagaimana tidak
mengherankan, kota yang berjuluk kota pendidikan seakan kehilangan budaya
intelektualitasnya berupa ajang diskusi.
Diskusi
sebagai budaya pendidikan
Budaya
diskusi adalah salah satu metode pembelajaran dengan melakukan interaksi tanya
jawab sebagai sarana bertukar pikiran dan paradigma. Sehingga tidak ada alasan
yang cukup logis untuk kota pendidikan menghilangkan budaya ini. Dalam
berdiskusi, para intelek akan mendapatkan sebuah pemikiran baru dan gagasan
yang akan menyelesaikan problematika kehidupan sosial. Mereka juga akan lebih
mudah menanggulangi perbedaan stigma dalam memandang sebuah permasalahan yang
terjadi.
Nana Sudjana
menerangkan, “Diskusi pada dasarnya ialah tukar menukar informasi, pendapat dan
unsur-unsur pengalaman secara teratur, dengan maksud untuk mendapatkan
pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau
untuk merampungkan keputusan bersama serta bukanlah sebuah debat yang saling
mengadu argumen untuk memenangkan pendapatnya.”
Ketika para
intelek memperbincangkan suatu masalah yang ada di dalam kondisi sosial,
analisis akan muncul dan gagasan baru akan terbentuk. Di sinilah kesinambungan
sebuah diskusi akan melahirkan karya literasi yang memberi kontribusi nyata
untuk kemajuan pendidikan. Buku memang tidak bisa dipisahkan dengan dunia
pendidikan. Sebab, buku adalah penutur sejarah dan kebudayaan serta pembuka
wawasan. Untuk itu, para akademisi harus mampu merefleksikan pemikiran dan
pandangan sosial mereka dalam sebuah karya literatur.
Menurut Sulipan (2006), belajar bagaimana cara untuk belajar
yaitu mengajarkan cara belajar, yang mengarahkan dan mendorong peserta didik
untuk mengembangkan dan memperluas materi secara mandiri melalui diskusi, observasi,
studi literatur, dan studi dokumentasi (metode inquiry), dan cara belajar yang
dapat menumbuhkan dan memupuk motivasi internal peserta didik untuk belajar
lebih jauh dan lebih dalam.
Kegiatan yang menjadi budaya pendidikan seperti diskusi,
observasi, dan studi literatur dan dokumentasi inilah yang harus ada di Kota
Metro. Upaya seperti itulah yang harus diterapkan untuk menjadikan Metro
sebagai kota pendidikan. Bukan hanya sekadar wacana semata, namun harus ada
tindakan yang kongkret pada setiap elemen akademisi di Kota Metro.
UNESCO pada tahun 2012 melaporkan, indeks minat baca warga
Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang
Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.
Sangat menyedihkan minat baca seseorang bila dilihat dari
pernyataan tersebut. Bagaimana mereka akan berbudaya pendidikan jika minat baca
pun kurang? Sehingga tidak mengherankan jika diskusi dan dunia literasi
diabaikan, walaupun oleh mereka yang mengaku sebagai seorang yang
berintelektual. Padahal, membaca adalah salah satu jendela dunia yang akan
membuka pemikiran dan analisis untuk berdiskusi dan merangkainya ke dalam
tulisan.
Metro mempunyai peluang yang besar untuk menjadi kota
pendidikan seperti Kota Cambridge yang terkenal sebagai salah satu kota
pendidikan terbaik di dunia. Asalkan, setiap pihak mampu mengefektifkan budaya
pendidikan berupa diskusi dan literasi. Bukan hal yang tabu jika nantinya kota
ini didaulat sebagai kota pendidikan sedunia.
Penulis: Tymu Irawan (Mahasiswa IAIN Jurai Siwo Metro)