Meredam Konflik,Menuju Integrasi Etnik
Lampung dengan keheterogenan suku dan budaya yang ada didalam kelas sosialnya,membawa jantung pulau
Sumatera ini rawan akan perpecahan antara etnis satu dengan yang
lainnya.Miniature Indonesia ini memang sering menjadi langganan akan konflik
antar etnik yang ada didalamnya.Kesenjangan yang terjadi diantara kelompok
pelaku sosial itupun menjadikan daerah ini semakin mencekam dengan adanya
sebuah konflik.
Belum hilang dari ingatan kita konflik yang terjadi dilampung
selatan yang bernuansa primordial dan konflik yang terjadi di bekri lampung
tengah.Baru-baru ini pun telah terjadi lagi konflik yang tidak jauh beda
nuansanya seperti konflik sebelumnya.Rasa primordialisme adalah salah satu penyebab utama setiap
konflik yang ada dilampung.Hal itu perlu adanya sebuah penyelesaian konflik tersebut
agar menjadi seuah integrasi yang positif diseluruh suku dan budaya yang ada
dilampung.
Dalam ilmu sosiologi,konflik sering diartikan sebagai suatu proses
sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya.Konflik sering berlatar belakang perbedaan menyangkut ciri
fisik,kepandaian,pengetahuan,adat istiadat,keyakinan dan lain sebagainya.Pada
perilaku sosial dimasyarakat konflik dimaksudkan untuk menunjukkan identitas
kelompok yang bertikai dan jati diri mereka.
Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik yang terjadi di dalam
sosial ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok.Jika mereka tidak
menyadari adanya sebuah konflik didalam sosial,maka secara umum konflik
tersebut dianggap tidak ada.Sebaliknya,jika mereka mempersepsikan bahwa didalam
sosial telah ada konflik maka hal tersebut telah menjadi sebuah kenyataan.
Para pakar telah
meng-klaim bahwa pihak pihak yang melakukan konflik menghasilkan respon terhadap
adanya sebuah konflik.Respon tersebut memberikan pemahaman didalam dua dimensi
yaitu, pengertian dari hasil dan tujuan kelompok tersebut juga hasil dan tujuan
dari kelompok yang lain.Sehingga setelah adanya sebuah konflik antar kelompok
biasanya akan mencapai kesepakatan untuk mencari jalan keluar yang terbaik dari
konflik tersebut.
Penanganan konflik harusnya dilakukan oleh pihak – pihak terkait
sebelum konflik tersebut berkobar dan menyebabkan kerugian bahkan kehilangan
nyawa pada kelompok yang didera konflik tersebut.Konflik tidak harus diselesaikan dengan cara
kekerasan karena didalam lingkungan sosial konflik dipandang perlu.Konflik berperan untuk menunjukkan
identitas suatu kelompok atau suku,serta menumbuhkan rasa solidaritas antar
individu dalam kelompok tersebut.Setiap sosial pasti pernah mengalami adanya
sebuah konflik antar pelaku sosial.Bila
konflik tersebut dapat terselesaikan,maka hal tersebuat akan menjadi integrasi
pada kelompok yang sedang dilanda konflik tersebut.Namun jika penyelesaian
konflik gagal hal yang buruk seperti konflik
dilampung saat ini adalah akibat ketidakmampuan pihak terkait untuk
menyelesaikan sebuah konflik sosial.
Seharusnya ada penyelesaian konflik untuk merubah menjadi sebuah keintegrasian diseluruh kelompok yang
sedang terlibat konflik.Agar eksistensi dan peran konflik sebagai sarana
memperlihatkan identitas diri maupun kelompok tidak membawa dampak yang lebih buruk
seperti saat ini.Seharusnya ada deteksi dini konflik dari pemerintah daerah dan
kepolisian sehingga penyelesaian konflik tersebut dapat ditanggulangi secara
dini.
Keheterogenan suku antar suku - suku pendatang dan suku asli
seharusnya tidak dijadikan sikap primordialis yang akan membawa keranah konflik
akun.Akan tetapi perbedaan yang ada seharusnya menjadi modal masyarakat Lampung
untuk lebih baik dari daerah yang lain karena adanya sikap saling melengkapi
antar suku – suku yang ada di Lampung.
Ditulis
oleh:Tymu irawan (aktivis PMII Metro)

0 komentar:
Posting Komentar