Selasa, 30 Agustus 2016

Urgensi Diskusi dan Literasi







Hiruk pikuk peserta didik setiap hari ialah pemandangan yang biasa di kota yang bergelar kota pendidikan di Lampung ini. Berbagai lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi tersaji di dalam sketsa kota. Kontribusi setiap lembaga pun tak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan yang lain. Akan tetapi seberapakah kontribusi para intelek yang ada di dalam budaya pendidikan?
Tak banyak memang yang berperan aktif di dalam pembangunan intelektual kota ini.
Cukup miris, kota dengan gelar pendidikan yang didukung dengan lembaga pendidikan yang sangat memadai. Para intelek di kota ini seakan tertidur dalam tradisi yang tak karuan dalam aktivitas pendidikan.
Kekosongan suatu pemikiran untuk pembaharuan pendidikan di kota ini masih segelintir orang yang memikirkan. Lantas, di mana para intelektual yang lain? Hilangkah? Lenyapkah? Mereka acuh tak mengindahkan terhadap budaya yang erat dalam sebuah pendidikan. Sebuah ajang diskusi yang membangun pola pemikiran bagi para intelek-intelek, masih jarang ditemui di kota ini. Bagaimana tidak mengherankan, kota yang berjuluk kota pendidikan seakan kehilangan budaya intelektualitasnya berupa ajang diskusi.

Diskusi sebagai budaya pendidikan
Budaya diskusi adalah salah satu metode pembelajaran dengan melakukan interaksi tanya jawab sebagai sarana bertukar pikiran dan paradigma. Sehingga tidak ada alasan yang cukup logis untuk kota pendidikan menghilangkan budaya ini. Dalam berdiskusi, para intelek akan mendapatkan sebuah pemikiran baru dan gagasan yang akan menyelesaikan problematika kehidupan sosial. Mereka juga akan lebih mudah menanggulangi perbedaan stigma dalam memandang sebuah permasalahan yang terjadi.

Nana Sudjana menerangkan, “Diskusi pada dasarnya ialah tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur, dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk merampungkan keputusan bersama serta bukanlah sebuah debat yang saling mengadu argumen untuk memenangkan pendapatnya.”

Ketika para intelek memperbincangkan suatu masalah yang ada di dalam kondisi sosial, analisis akan muncul dan gagasan baru akan terbentuk. Di sinilah kesinambungan sebuah diskusi akan melahirkan karya literasi yang memberi kontribusi nyata untuk kemajuan pendidikan. Buku memang tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan. Sebab, buku adalah penutur sejarah dan kebudayaan serta pembuka wawasan. Untuk itu, para akademisi harus mampu merefleksikan pemikiran dan pandangan sosial mereka dalam sebuah karya literatur.

Menurut Sulipan (2006), belajar bagaimana cara untuk belajar yaitu mengajarkan cara belajar, yang mengarahkan dan mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan memperluas materi secara mandiri melalui diskusi, observasi, studi literatur, dan studi dokumentasi (metode inquiry), dan cara belajar yang dapat menumbuhkan dan memupuk motivasi internal peserta didik untuk belajar lebih jauh dan lebih dalam.
Kegiatan yang menjadi budaya pendidikan seperti diskusi, observasi, dan studi literatur dan dokumentasi inilah yang harus ada di Kota Metro. Upaya seperti itulah yang harus diterapkan untuk menjadikan Metro sebagai kota pendidikan. Bukan hanya sekadar wacana semata, namun harus ada tindakan yang kongkret pada setiap elemen akademisi di Kota Metro.

UNESCO pada tahun 2012 melaporkan, indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.
Sangat menyedihkan minat baca seseorang bila dilihat dari pernyataan tersebut. Bagaimana mereka akan berbudaya pendidikan jika minat baca pun kurang? Sehingga tidak mengherankan jika diskusi dan dunia literasi diabaikan, walaupun oleh mereka yang mengaku sebagai seorang yang berintelektual. Padahal, membaca adalah salah satu jendela dunia yang akan membuka pemikiran dan analisis untuk berdiskusi dan merangkainya ke dalam tulisan.

Metro mempunyai peluang yang besar untuk menjadi kota pendidikan seperti Kota Cambridge yang terkenal sebagai salah satu kota pendidikan terbaik di dunia. Asalkan, setiap pihak mampu mengefektifkan budaya pendidikan berupa diskusi dan literasi. Bukan hal yang tabu jika nantinya kota ini didaulat sebagai kota pendidikan sedunia.

Penulis: Tymu Irawan (Mahasiswa IAIN Jurai Siwo Metro)

0 komentar:

Contact

Hubungi Kami

Beri tahu kami ketika anda membutuhkan sesuatu ataupun ingin mengajak kerja sama Tim kami. Suport dan Donasi anda membuat kerja kerja kemanusiaan yang kita himpun akan semakin kuat dan bermanfaat.

Alamat (Address):

Bandar Lampung, Jl. Nusantara , Indonesia

Jam Kerja (Work Time):

Senin (Monday) - Jumat (Friday) 9am - 5pm

No HP/Phone:

085664333675

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Bisnis Global, Market dan Peluangnya

 Beberapa realitas bisnis yang sedang terjadi saat ini dan patut kita jadikan bahan analisis bisnis, AI bukan lagi keunggulan, tetapi keb...