Minggu, 28 Agustus 2016


Menyoal Tradisi dan Pemikiran Baru

Seperti lebaran-lebaran sebelumnya, lebaran tahun ini saya juga menyempatkan waktu untuk berkunjung silaturahmi kerumah beberapa teman ngaji saya dulu sekaligus sowan kebeberapa ndalem kyai. Kegiatan ini buat saya pribadi sangat menyenangkan dan menenangkan hati dan fikiran. Tidak hanya agar tahu kabar teman-teman santri, bertemu mereka membuat saya eling bahwa sesibuk apapun aktivitasku sekarang, nyantri, ngaji, sinau agama harus tetap dilakukan.
Dari sekian banyak teman yang saya temui, Jamzuri dengan polosnya menceritakan beberapa kegelisahan yang ia alami dalam proses belajar berkiprah untuk lingkungan sekitar. Salah satu keadaan yang ia keluhkan adalah tentang kemampuan leadership imam masjid di lingkungannya. Beliau adalah salah satu kyai, guru ngaji, sesepuh dan juga tokoh yang paling disegani di desanya, Mojokerto Lam-Teng. Anjuran dan instruksinya kepada jamaah selalu tidak pernah menuai protes. Jangankan protes, bertanya pun warga tidak ada yang berani. Misalnya, Ramadhan kemarin masjid-masjid di desa itu mendapat giliran pengajian Safari Ramadhan. Kepada Jamaah, beliau selalu menghimbau agar mereka hadir, bahkan beliau menunjuk semacam coordinator untuk menghadiri setiap jadwal pengajian itu. Ironisnya, ketika para coordinator memenuhi undangan dari masjid-masjid lain, sang kyai itu tidak pernah hadir padahal beliau ada di ndalemnya. Jamzuri dan teman-teman risma pun hanya bias nggrundel dalam hati, “seharusnya kyai bias jadi contoh untuk jamaahnya”.
Yang lebih membuat Jamzuri terheran-heran juga adalah saat kegiatan zakat fitrah. Beberapa hal ganjil terjadi dan tidak ada yang berani menyanggah atau sekedar menanyakan alasannya. Pertama, beliau langsung menunjuk amil zakat tanpa rapat dengan jamaah terlebih dahulu. Mekanisme pengumpulan dan pembagian pun kurang dapat memahami keadaan masyarakat. Dia bersikeras zakat yang dibagikan kemustahiq adalah hanya zakat yang berupa beras, sementara zakat berupa uang dibagikan untuk beliau dan amilnya. Padahal baik yang berupa beras maupun yang berupauang, zakat harus dibagikan merata. Padahal cukup banyak prosentase muzakki yang memberikan zakatnya berupa uang. Kemudian penentuan mustahiqnya juga terkesan asal-asalan, tidak sistematik dan tidak objektif. Beberapa penduduk yang memiliki rumah mewah ikut juga menerima beras zakatnya. Tentang transparansi hasil zakat, beliau tidak memperbolehkan ada pengumuman pemasukan dan distribusi zakat. Intinya semua warga yang penting sudah zakat, titik.
Tidak tahan dengan keadaan ini, Jamzuri memberanikan diri sowan dan menanyakan perihal kebijakan sang imam masjid itu. Ia juga menyampaikan apa yang ia pelajari selama ini di pesantren berikut dalil-dalil fiqhnya. Akan tetapi, bukannya mendapat sambutan yang baik, sang imam malah menjawab, “wes nggak usah sok pinter, nembe balek mondok wingi sore aekok. Wes pirang-pirang tahun coro zakat ngene iki, gak enek kyai sing protes. Koe ki sopo”.  (Sudah, tidak usah sok pintar, baru pulang dari pesantren kemarin sore aja ko sudah sok pintar. Sudah bertahun-tahun praktek zakatnya seperti ini, tidak ada kyai yang protes, lha kamu ini siapa?)
Kejadian nyata yang dialami Jamzuri ini, bias jadi ada di masjid-masjid lain. Mari kita ber muhasabah, bukankah kita sangat familier dengan kaidah “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradis baru yang lebih baik?" bahkan kita dengan bangganya memakai ini sebagai semboyan organisasi, contoh imam diatas sepertinya belum sesuai dengan kaidah ini. dn mungkin kita pribadi sebenarnya punya kebiasaan lama yang belum begitu baik dan meski ada cara baru yang lebih baik kita tidak mau memakainya karena kita tidak mau repot atau sudah nyaman dengan cara lama. sepertinya akidah ini harus secara istiqomah kita terapkan sedikit demi sedikit, agar jamaah kita semakin maju dan beradap, karena hari ini kita suda ketinggaln dalam beberapa hal, kita sudah banyak ketinggalan dengan jama'ah-jama'ah lain. wallahu'alambishowab.


Sumber Berita: www.simaknews.com

0 komentar:

Contact

Hubungi Kami

Beri tahu kami ketika anda membutuhkan sesuatu ataupun ingin mengajak kerja sama Tim kami. Suport dan Donasi anda membuat kerja kerja kemanusiaan yang kita himpun akan semakin kuat dan bermanfaat.

Alamat (Address):

Bandar Lampung, Jl. Nusantara , Indonesia

Jam Kerja (Work Time):

Senin (Monday) - Jumat (Friday) 9am - 5pm

No HP/Phone:

085664333675

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Bisnis Global, Market dan Peluangnya

 Beberapa realitas bisnis yang sedang terjadi saat ini dan patut kita jadikan bahan analisis bisnis, AI bukan lagi keunggulan, tetapi keb...