Pembangunan Berbasis Masyarakat Madani
Kini, paradigma dan pemikiran masyarakat Indonesia harus selalu berprioritas pada pembangunan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, dan yang paling penting adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Tujuannya membangun masyarakat intelek demi masa depan yang cerah.
Perekonomian Indonesia, menurut beberapa pernyataan, mengalami pertumbuhan pada tahun ini. Namun, dampak pertumbuhan itu belum terasa bagi masyarakat menengah ke bawah. Karena itu, masyarakat harus lebih terbuka dalam merespons pertumbuhan itu, menjadikannya peluang yang prospektif bagi pembangunan perekonomian dan peningkatan taraf hidup.
Bidang sosial merupakan keteraturan masyarakat dalam menjadikan masyarakat yang madani. Masyarakat harus mempunyai paradigma sosial dengan keantusiasan mereka dalam lingkungan sosial. Sehingga, hal itu dapat menjadikan kesosialitaan bagi setiap orang untuk merespons lingkungan, mampu berperan aktif menngembangkan lingkungan sosial.
Guna menjadi civil society dalam ranah politik masa kini, masyarakat harus lebih sigap dalam bargaining power (kekuatan tawar-menawar) dengan pemerintah. Dalam upaya menjadikan politik yang sehat dan tidak terjualbelikan, tawar-menawar politik harus dilakukan dengan mengedepankan pembangunan dan kesejahteraan Indonesia.
Kelompok cendekiawan yang diharapkan mampu menjadi aktor pembangunan dalam civil society di Indonesia, kini, terkesan masih lemah dan minim pemikiran alternatif, yang mereka tawarkan untuk pembangunan. Mereka malah dekat dengan pusat kekuasaan. Bahkan, mereka tidak hendak memikul risiko menentang kebijakan pemerintah.
Dalam hal pengembangan SDM yang mengedepankan kemandirian dan keswasembadaan masyarakat, pengembangan ilmu dan pola pikir masyarakat perlu menjadi prioritas utama. Hal itu akan mengubah pola pikir masyarakat Indonesia yang konsumtif menjadi produktif.
Pengembangan ilmu untuk SDM Indonesia memang tidak boleh tercerabut dari akar kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai Pancasila seharusnya menjadi rambu-rambu yang dapat memelihara nilai sila di dalamnya, tanpa mengurangi otonomi dan kreativitas ilmu itu sendiri dalam pengembangan SDM.
Dalam penerapan civil society, kemandirian tinggi berhadapan dengan negara dan penaatan hukum bagi siapa saja tanpa terkecuali. Agar, masyarakat modern yang mandiri dan mengutamakan kesukarelaan tercapainya dalam pembangunan negara ini. Sehingga, bangsa ini mampu menjadi bangsa yang mempunyai masyarakat yang berintervensi pada pengembangan diri.
Hingga saat ini, peran masyarakat menjadi masyarakat yang berperan aktif dan mampu berpartisipasi dalam pembangunan masih minim. Hal itu tentunya menjadi beban kita untuk memperbaiki bangsa ini, dengan menjadi masyarakat madani. Akhirnya, tuntutan menjadi masyarakat yang berintelektual serta aktif dalam pengembangan bersarang pada setiap masyarakat.
Penulis: Tymu Irawan (Mahasiswa Prodi PBA IAIN Jurai Siwo Metro)

0 komentar:
Posting Komentar