Berbagi, Berdiskusi dan Mengabdi untuk kecerdasan Negeri
Selasa, 30 Agustus 2016
Setiap bahasa
yang terucap dari mulut seseorang pasti memiliki korelasi dengan pikiran dan
kalbu.Suasana jiwa seseorang dapat diketahui dengan memperhatikan setiap kata
yang terucap dari dirinya.Terkadang bahasa tersebut dap[at berbentuk untaian
keindahan maupun ungkapan kemarahan.
Salah satu fungsi bahasa adalah fungsi
ekpresi,yaitu bahasa digunakan sebagai pengekpresian atau melahirkan sebuah
ungkapan yang menjelaskan kondisi diri.Ekpresi sesseorang terkadang dapat membuat
si pendengar bahasa tersebut terpengaruh
akan bahasa itu.Melalui sebuah imajinatif yang tinggi ekpresi bahasa sangatlah
indah didengar.
Fungsi bahasa juga sebagai penyampai
informasi,yaitu bahasa sebaagai penyampai pesan atau amanat.Buah pikiran yang ingin
disebar luaskan kepada khalayak luas dapat dikemas dengan bahasa yang menarik
sehingga akan tersalurkan pasan yang ada dalam bahasa tersebut.
Pengaruh bahasa sangatlah erat di dalam
psikisseseorang.Dimanaketika jiwa terganggu,bahasa yang dikeluarkan akan ikut
terganggu pula.Aspek mental menjadikan kebahasaan seseorang selalu berubah –
ubah.
Jiwa seseorang yang dikenal dengan
psikis adalah hasil dari kerja syaraf di dalam tubuh manusia.Ketika syaraf
tersebut diberi stimulus berupa bahasa,maka secara otomatis psikis seseorang
akan ikut terpengaruh dengan
menghasilkan respon.
Weisss seorang ahli psikologi Amerika
mengatakan bahwa”perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan
meragam-ragamkan kegiatan seseorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan”.
Sehingga sangatlah urgen untuk
mempelajari kaitan antara bahasa dan psikis seseorang.Penggunaan bahasa yang
baik akan menjadikan seseorang yang
mendengar menjadi terpengaruh akan
bahasa itu.Makafungsi bahasa sebagai
persuasi atau media untuk mengajak dan mempengaruhi seseorang sangatlah efektif
.
Bahasa juga sebagai pelerai sebuah
kegelisahan jiwa.Apabila seseorang mengalami depresi maka dengan mengungkapkan
kegelisahan dalam sebuah tulisan maka rasa gundahnya akan berkurang bahkan
hilang.Disini bahasa dapat menjadi terapi yang efektif untuk mengobati tekanan
jiwa.
Bahasa adalah salah satu sisi dari
kejiwaan manusia yang berperan sangat penting dalam menentukan suasana
jiwa.Terapi terapi gangguan psikis banyak menggunakan bahasa karena bahasa dirasakan
mempunyai kedekatan yang lebih dengan jiwa.Melalui sebuah bahasa yang
diucapakan, dapat diketahui suasana jiwa seseorang secara jelas.
Bahasa adalah hal yang sangat lama yang
dekat dengan manusia.Sejak lahir seseorang berkomunikasi dengan bahasa untuk
memenuhi kebutuhannya.Maka bahasa telah ditempatkan ke dalam bagian diri
manusia yang sangat dalam.Untuk alasan itu juga jika bahasa diolah dengan
baik,keterpengaruhan jiwa akan semakin besar.
Kaitan antara bahasa dan jiwa akan
menjadi menarik ketika seseorang mampu mempelajari dan membuat bahasa yang
menarik jiwa untuk merespon.Keindahan kata
dan irama bunyi dari bahasa itu dapat menjadikan jiwa terbebas akan
belenggu kegelisahan.
Syaraf-syaraf yang tegang akibat
permasalahan akan rileks ketika menerima keelokan bahasa itu.Peerilaku yang
baik dari seseorang dalam segi bahasa dapat meyakinkan jiwa seseorang dalam
menganalisis dirinya.Dengan begitu kekuatan sebuah banasapun menjadi luar biasa
apabila bahasa itu dapat menhuasai dan mengendalikan jiwa.
Minggu, 28 Agustus 2016
Menulis sebagai Terapi Diri
Ajang Menulis yang digalakkan Komunitas LIMO (lingkar masyarakat optimis) dan SimakNews.com, memanggil nurani saya untuk ikut mencoba. Memang, banyak hal yang kita dapat dalam menulis. Ada perasaan puas dan kebebasan yang tak terukur yang didapat. Dalam hal demikian, menurut saya, ada sebuah terapi yang berpengaruh pada psikis kita, ketika menggoreskan huruf-huruf.
Setiap tulisan yang telah rampung dalam pengerjaannya, pasti tersimpan makna. Memang, dalam atau dangkalnya makna itu relatif. Menguraikan jejeran kata akan mengurangi kegelisahan diri. Sehingga, menulis dapat berdampak positif untuk jiwa.
Berikut, saya kutipkan berbagai manfaat dan kiat menulis seperti telah disampaikan dalam Kompas.com.
Ragam Manfaat Menulis
Para peneliti menemukan fakta, perempuan yang menuliskan berbagai hal positif selama 15 menit setiap hari, berat badannya dapat turun secara signifikan. Pikiran positif ini menjadi kekuatan perempuan karena ketika sedang stres. Mereka tidak melampiaskan emosinya pada makanan untuk merasa lebih baik.
Seorang ibu yang terbiasa menulis juga memiliki anak yang lebih kritis. Kebiasaan menulis dan membaca seorang ibu akan membuat anak terbiasa dengan pemandangan keseharian ibu yang positif. Apa yang ibu baca akan memunculkan keingintahuan anak dan memancing tanya. Lantas, ibu akan menerangkan dengan cara yang menarik. Jadi, aktivitas ibu suka menulis bukan hanya menumpahkan ilmu dan keingintahuan ibu sendiri akan sesuatu. Hal ini juga berdampak pada anak yang semakin kritis bertanya. Ibaratnya, anak memperoleh “gizi” dari setiap jawaban yang diberikan ibu.
Menulis juga dapat menjadi terapi. Hal itu diakui pelaku seni peran Ine Febriyanti, yang terbiasa menulis jika sedang gelisah, marah, saat emosi tidak seimbang. Ia pun menerbitkan tulisannya dalam sebuah buku berjudul 7 Perempuan Urban Sebuah Catatan. Ine tergerak untuk menjadi bagian dari tujuh perempuan urban, yang mengekspresikan pemikiran, perasaan, juga pengalaman melalui tulisan dan buku.
Fira Basuki, ibu dua anak penulis 27 buku, memberikan sejumlah kiat menulis, terutama menulis buku. Menurutnya, ada empat hal yang perlu diperhatikan saat menulis buku.
Jika ingin sukses menulis buku, penuhi empat faktor tersebut karena bisa menyelamatkan Anda dari sejumlah kesalahan, yang menimbulkan stres atau rusaknya nama baik. Kiat pertama, menulislah dari hati. Tidak terpaksa, dipaksakan, juga memaksakan diri. Kedua, jangan pernah punya keinginan terselubung saat menulis. Misalnya, menulis karena ingin terkenal. Hal itu hanya akan menyebabkan stres.
“Banyak penulis muda yang stres karena pretensi. Buku pertamanya sukses, punya banyak penggemar, namun jadi stres karena ia tak juga menghasilkan buku berikutnya sementara penggemar sudah menunggu. Hal ini juga akan berdampak pada nama baik,” tutur Fira seusai peluncuran buku ke-27 karyanya berjudul Cerita di Balik Noda di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ketiga, berikan sesuatu yang bermakna dalam buku tersebut. Tidak harus berisi ilmu pengetahuan, bisa juga hiburan, pengalaman, keahlian yang bermanfaat atau menginspirasi orang yang membaca. Terakhir, cari penerbit yang sesuai dengan buku Anda. Jangan sampai buku salah sasaran.
Semoga tulisan ini memberi dampak yang baik dan mampu menambah motivasi. Saatnya kita perkaya diri dengan karya hati bukan obsesi semata.
Penulis: Tymu Irawan (Mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro)
Pembangunan Berbasis Masyarakat Madani
Kini, paradigma dan pemikiran masyarakat Indonesia harus selalu berprioritas pada pembangunan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, dan yang paling penting adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Tujuannya membangun masyarakat intelek demi masa depan yang cerah.
Perekonomian Indonesia, menurut beberapa pernyataan, mengalami pertumbuhan pada tahun ini. Namun, dampak pertumbuhan itu belum terasa bagi masyarakat menengah ke bawah. Karena itu, masyarakat harus lebih terbuka dalam merespons pertumbuhan itu, menjadikannya peluang yang prospektif bagi pembangunan perekonomian dan peningkatan taraf hidup.
Bidang sosial merupakan keteraturan masyarakat dalam menjadikan masyarakat yang madani. Masyarakat harus mempunyai paradigma sosial dengan keantusiasan mereka dalam lingkungan sosial. Sehingga, hal itu dapat menjadikan kesosialitaan bagi setiap orang untuk merespons lingkungan, mampu berperan aktif menngembangkan lingkungan sosial.
Guna menjadi civil society dalam ranah politik masa kini, masyarakat harus lebih sigap dalam bargaining power (kekuatan tawar-menawar) dengan pemerintah. Dalam upaya menjadikan politik yang sehat dan tidak terjualbelikan, tawar-menawar politik harus dilakukan dengan mengedepankan pembangunan dan kesejahteraan Indonesia.
Kelompok cendekiawan yang diharapkan mampu menjadi aktor pembangunan dalam civil society di Indonesia, kini, terkesan masih lemah dan minim pemikiran alternatif, yang mereka tawarkan untuk pembangunan. Mereka malah dekat dengan pusat kekuasaan. Bahkan, mereka tidak hendak memikul risiko menentang kebijakan pemerintah.
Dalam hal pengembangan SDM yang mengedepankan kemandirian dan keswasembadaan masyarakat, pengembangan ilmu dan pola pikir masyarakat perlu menjadi prioritas utama. Hal itu akan mengubah pola pikir masyarakat Indonesia yang konsumtif menjadi produktif.
Pengembangan ilmu untuk SDM Indonesia memang tidak boleh tercerabut dari akar kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai Pancasila seharusnya menjadi rambu-rambu yang dapat memelihara nilai sila di dalamnya, tanpa mengurangi otonomi dan kreativitas ilmu itu sendiri dalam pengembangan SDM.
Dalam penerapan civil society, kemandirian tinggi berhadapan dengan negara dan penaatan hukum bagi siapa saja tanpa terkecuali. Agar, masyarakat modern yang mandiri dan mengutamakan kesukarelaan tercapainya dalam pembangunan negara ini. Sehingga, bangsa ini mampu menjadi bangsa yang mempunyai masyarakat yang berintervensi pada pengembangan diri.
Hingga saat ini, peran masyarakat menjadi masyarakat yang berperan aktif dan mampu berpartisipasi dalam pembangunan masih minim. Hal itu tentunya menjadi beban kita untuk memperbaiki bangsa ini, dengan menjadi masyarakat madani. Akhirnya, tuntutan menjadi masyarakat yang berintelektual serta aktif dalam pengembangan bersarang pada setiap masyarakat.
Penulis: Tymu Irawan (Mahasiswa Prodi PBA IAIN Jurai Siwo Metro)
Menyoal Tradisi dan Pemikiran Baru
Seperti lebaran-lebaran sebelumnya,
lebaran tahun ini saya juga menyempatkan waktu untuk berkunjung silaturahmi kerumah beberapa teman ngaji saya dulu sekaligus sowan kebeberapa ndalem kyai. Kegiatan ini buat saya pribadi sangat menyenangkan dan menenangkan hati dan fikiran. Tidak hanya agar
tahu kabar teman-teman santri,
bertemu mereka membuat saya eling bahwa sesibuk apapun aktivitasku sekarang, nyantri, ngaji, sinau agama harus tetap dilakukan.
Dari sekian banyak teman yang saya temui,
Jamzuri dengan polosnya menceritakan beberapa kegelisahan
yang ia alami dalam proses
belajar berkiprah untuk lingkungan sekitar.
Salah satu keadaan yang ia keluhkan adalah tentang kemampuan leadership imam masjid di lingkungannya. Beliau adalah salah satu kyai, guru
ngaji, sesepuh dan juga tokoh yang paling disegani di desanya,
Mojokerto Lam-Teng. Anjuran dan instruksinya kepada jamaah selalu tidak pernah menuai protes. Jangankan protes,
bertanya pun warga tidak ada yang berani. Misalnya, Ramadhan kemarin
masjid-masjid di desa itu mendapat giliran pengajian Safari Ramadhan. Kepada Jamaah,
beliau selalu menghimbau
agar mereka hadir, bahkan beliau menunjuk semacam coordinator untuk menghadiri setiap jadwal pengajian itu. Ironisnya, ketika para coordinator memenuhi undangan dari
masjid-masjid lain, sang kyai itu tidak pernah hadir padahal beliau ada di ndalemnya. Jamzuri dan teman-teman risma pun
hanya bias nggrundel dalam hati, “seharusnya kyai bias jadi contoh untuk jamaahnya”.
Yang lebih membuat Jamzuri terheran-heran juga adalah saat kegiatan
zakat fitrah. Beberapa hal ganjil terjadi dan tidak ada yang berani menyanggah atau sekedar menanyakan alasannya. Pertama,
beliau langsung menunjuk amil zakat
tanpa rapat dengan jamaah terlebih dahulu.
Mekanisme pengumpulan dan pembagian pun kurang dapat memahami keadaan masyarakat.
Dia bersikeras
zakat yang dibagikan kemustahiq adalah hanya zakat yang berupa beras, sementara
zakat berupa uang dibagikan untuk beliau dan amilnya. Padahal baik yang
berupa beras maupun yang
berupauang, zakat harus dibagikan merata. Padahal cukup banyak prosentase muzakki yang memberikan zakatnya berupa uang.
Kemudian penentuan mustahiqnya juga terkesan asal-asalan, tidak sistematik dan tidak objektif.
Beberapa penduduk
yang memiliki rumah mewah ikut juga menerima beras zakatnya. Tentang transparansi hasil zakat,
beliau tidak memperbolehkan ada pengumuman pemasukan dan distribusi
zakat. Intinya semua warga yang penting sudah zakat,
titik.
Tidak tahan dengan keadaan ini, Jamzuri memberanikan diri sowan dan menanyakan perihal kebijakan sang imam masjid itu. Ia juga menyampaikan apa yang ia pelajari selama ini di
pesantren berikut dalil-dalil fiqhnya. Akan tetapi, bukannya mendapat sambutan
yang baik, sang imam malah menjawab, “wes nggak usah sok pinter, nembe balek mondok wingi sore aekok. Wes pirang-pirang tahun coro zakat ngene iki, gak enek kyai sing protes. Koe ki sopo”.
(Sudah,
tidak usah sok pintar, baru pulang dari pesantren kemarin sore aja ko sudah sok pintar. Sudah bertahun-tahun praktek zakatnya seperti ini, tidak ada kyai yang
protes, lha kamu ini siapa?)
Kejadian nyata yang dialami Jamzuri ini, bias jadi ada di masjid-masjid
lain. Mari kita ber muhasabah, bukankah kita sangat familier dengan kaidah “memelihara tradisi
lama yang baik dan mengambil tradis baru yang lebih baik?" bahkan kita
dengan bangganya memakai ini sebagai semboyan organisasi, contoh imam
diatas sepertinya belum sesuai dengan kaidah ini. dn mungkin kita
pribadi sebenarnya punya kebiasaan lama yang belum begitu baik dan meski
ada cara baru yang lebih baik kita tidak mau memakainya karena kita
tidak mau repot atau sudah nyaman dengan cara lama. sepertinya akidah
ini harus secara istiqomah kita terapkan sedikit demi sedikit, agar
jamaah kita semakin maju dan beradap, karena hari ini kita suda
ketinggaln dalam beberapa hal, kita sudah banyak ketinggalan dengan
jama'ah-jama'ah lain. wallahu'alambishowab.
Sumber Berita: www.simaknews.com
Senin, 11 Juli 2016
Pesona GuaWara Metro
Metro-Tak banyak orang tahu, ada sebuah tempat wisata alam gua di Kota Metro. Gua Wara, begitulah masyarakat sekitar menamakannya.
Gua tersebut terletak tak jauh dari Stadion 24 Tejosari. Dari stadion tersebut, saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) bisa terlihat. Di antara dua tempat itu, di antara sawah, terdapat jalan onderlaag (jalan tanah berlapis batu).
Di ujung jalan, sealur sungai kecil menjadi pembatas areal persawahan yang ada. Tepat di seberang sungai, Gua Wara terletak.
Menurut penuturan masyarakat setempat, wisata alam Gua Wara tersebut cukup terkenal di era 1990-an. Banyak pengunjung datang tidak hanya dari Metro, tetapi juga masyarakat Lampung Timur dan Lampung Tengah.
Tetapi sekarang, kondisi gua seperti tampak tak terawat.
Selain Gua Wara, atau yang dikenal juga sebagai Gua Macan putih, berjarak sekitar 50 meter, ada gua lain. Masyarakat menyebutnya Gua Sireng. Di jalan antara dua gua tersebut, sebuah air terjun mini terletak.
Menurut masyarakat sekitar, saat zaman penjajahan, Gua Wara maupun Gua Sireng merupakan tempat persembunyian para tentara gerilya, untuk melawan Belanda.
Penulis: Tymu Irawan
Tanggung Jawab Pemimpin
Menurut Kartini Kartono (1994:33), pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang. Sehingga, ia mampu memengaruhi orang-orang lain, untuk bersama-sama, melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Kehausan akan prioritas diri, menjadikan para pemimpin mementingkan diri pribadi. Kebutuhan dan pelayanan kepada warga negara pun teracuhkan karena sikap para pemimpin yang semena-mena. Tanpa rasa bersalah, mereka berlalu lalang menghabiskan hak-hak yang bukan milik mereka. Keuntungan yang menghalalkan segala cara pun dilakukan, asal mereka mendapat keuntungan.
Sudah seharusnya, tradisi itu dihapuskan dari adab kepolitikan Indonesia. Kejujuran setiap pemimpin perlu dikembalikan, agar dapat mengemban tanggung jawab dengan baik. Saatnya, perubahan secara sistematis digalakkan. Sehingga, pemimpin yang benar-benar berjuang untuk warga negara dapat muncul.
Mari mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad Saw, yang dapat menciptakan kejayaan dan kemakmuran di dalam negara. Pemimpin adalah seorang pelayan masyarakat, yang harus siap sedia bila masyarakatnya membutuhkan pelayanan dan perlindungan. Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah sebuah keidealan birokrasi, yang teratur baik dan transparan. Beliau melayani para umat dengan sukarela, selalu mendahulukan kepentingan umum tanpa mengabaikan keluarganya. Kepuasan warga adalah prioritas utama dan sebagai barometer kesuksesan sebuah birokrasi yang baik.
Kepolitikan yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kereligiusan, sunah-sunah nabi, maupun Alquran dalam pemerintahan, sangat penting untuk diterapkan. Semua itu sudah terbukti menjadi pedoman yang matang untuk mengurus pemerintahan. Jangan hanya mementingkan keegoisan dan tujuan kelompok tertentu saja, yang akhirnya, aspirasi warga menjadi terabaikan. Menggali tentang kepemimpinan Islam akan menjadi satu referensi untuk menjalankan roda pemerintahan, yang berorientasi kepentingan dan pelayanan warga negara secara optimal.
Sebuah lembaga yang mempunyai wewenang mencetak calon-calon pemimpin, haruslah menjadi lembaga yang demokratis. Di antaranya, menyediakan tempat penampung inspirasi para warganya, dan mempunyai forum untuk membahas aspirasi tersebut. Sehingga, para anggotanya memungkinkan menjadi kader-kader, yang bila menjadi pemimpin, memang memperjuangkan hak warga negara. Diri mereka akan terselubungi ilmu yang bermanfaat dan rasa tanggap yang cepat, dalam merespons problem dalam lingkungan. Pengkaderan yang baik untuk setiap anggota dapat menciptakan politikus-politikus yang kompeten, bila memang nantinya, menjadi pemeran dalam panggung politik di birokrasi.
Penulis: Tymu Irawan


